Monitoring di Jawa Timur

Global Monitoring 6 di Kab.Sumenep dan 2 di Kab.Situbondo – 31 Juli s.d 06 Agustus 2016

Setelah Monitoring di Provinsi Bangka Belitung maka destinasi selanjutya yakni di Provinsi Jawa Timur tepatnya di Kab.Sumenep dan Kab.Situbondo. Minggu (31/07/2016) perjalanan dimulai dari kota istimewa Yogyakarta menuju Surabaya setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan menuju Kab.Sumenep yang terletak di Pulau Madura yang dipisahkan oleh selat Madura, kini perjalanan lebih mudah karena antara pulau jawa (Surabaya) dan Pulau Madura sudah dihubungkan dengan Jemabatan Nasional Suramdu.  Adapun tujuan dari monitoring ini untuk mengetahui tingkat keberlanjutan Sanitasi Masyarakat pasca konstruksi, baku mutu effluent IPAL serta permasalahan, inovasi terkait KSM, IPAL dan Sanitasi.

KABUPATEN SUMENEP

Monitoring di Kab.Sumenep terdapat 6 titik lokasi yang terdiri dari 2 lokasi di Kec.Dasuk, Kec.Lenteng, Kec.Pragaan, Kec.Ganding, Kec.Manding masing-masing 1 lokasi IPAL. Sebelum melakukan kunjungan pertama ke lokasi IPAL saya bertemu dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab.Sumenep Bapak Halim sebagai Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dan beliaupun ikut mendampingi ke 6 lokasi tersebut.

Lokasi pertama dimulai dari KSM Sinar Jaya Desa Samaan, Kec.Dasuk dengan sistem MIX. Namun yang menyambung ke sistem IPAL ini hanya  dari pesantren saja dan itupun tidak ada bak kontrol utama. Secara fisik bangunan IPAL dan fasilitas MCK digunakan dengan baik oleh masyarakat sekitar dan fasilitas ini terletak dekat dengan sumber mata air. Selanjutnya masih di Kec.Dasuk yakni KSM Bringin Mandiri, secara fisik bangunan IPAL dan fasilitas MCK baik dan bagus. Untuk sistem perpipaan pada bak kontrol kurang baik dikarenakan beda tinggi posisi pipa dengan lantai bak kontrol sehingga terjadinya genangan air. Di IPAL ini terdapat biogas tetapi masih belum digunakan, dikarenakan operator lagi terkena musibah dan baru akan dimaksimalkan kembali setelah masalahnya selesai.

KSM Maju Mapan Jaya Desa Giring, Kec.Manding, secara fisik bangunan IPAL dan MCK sudah baik dan bagus. Terdapat 7SR, selain itu terdapat 1 kamar Mandi yang tidak digunakan karena bak air bocor. Di lokasi IPAL ini sendiri terdapat inovasi yaitu terdapatnya taman bermain. KSM Bunga Melati Desa Daramesta, Kec.Lenteng adapun sistem yang digunakan MCK++, kondisi IPAL dan MCK terbilang cukup baik dan digunakan oleh warga sekitar hanya saja kran air pada wastafel sudah rusak. Persis disebelah bangunan MCK terdapat musholla. KSM Barokah Desa Rombiya Timur, Kec.Ganding secara fisik bangunan MCK dan IPAL bagus, hanya saja di KSM ini bangunan MCK terdapat di 3 titik lokasi yang berbeda. Menuju lokasi terakhir yakni KSM Nurul Yaqin Desa Pakambandaya Kec.Pragaan, bangunan IPAL dan MCK berada di area masjid. IPAL di KSM ini ditimbun dengan tanah dikarenakan bau tak sedap.

Untuk sambungan ke sistem IPAL terdapat 16 SR dan hanya ada 3 bak kontrol yang bisa dibuka. Kesimpulan dalam kegiatan monitoring di Kabupaten Sumenep sebagian besar effluent dialirkan ke bak resapan, hal ini dikarenakan tidak adanya akses jalur pembuangan ke selokan maupun sungai, kedua belum adanya besaran iuran pengguna yang ditetapkan, sehingga untuk biaya yang dikeluarkan untuk keperluan listrik masih menggunakan bantuan sumber kas desa.

KABUPATEN SITUBONDO

Pada awalnya sedikit kesulitan mencari lokasi IPAL yang berada di Kab.Situbondo, karena alamat yang tertera di data bukan menunjukkan alamat lokasi IPAL melainkan alamat dari CV.Gramedya dan CV.ALnubi Jaya yang keduanya hanya sebagai pengadaan barang/pemenang lelang dari program yang dijalankan oleh Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun Anggaran 2015.

Setelah menghubungi beberapa pihak terkait dengan kedua CV tersebut akhirnya saya diberi petunjuk untuk menuju lokasi IPAL tersebut. Lokasi pertama terdapat di Desa Panarukan. Secara fisik IPAL dan bangunan MCK baik dan bagus. Selain itu juga terdapat ruang operator yang bertugas melakukan perawatan dan pemeliharaan sedangkan untuk pengurus masih menunggu pemilihan Kepala Desa. Sumber pendapatan melalui iuran bagi pengguna yang menggunakan fasilitas MCK mulai Rp1,000 s.d Rp5,000. Untuk jumlah pengguna aktif 20 jiwa/hari.

Lokasi kedua terdapat di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Desa Jangkar, Kec.Jangkar. Lokasi ini tidak terawat dan tidak ada yang menjaga, seluruh kamar Mandi/toilet dikunci untuk IPAL sendiri ditimbun dengan tanah dan di atasnya ditanami dengan tumbuh-tumbuhan dan effluent dibuang di bak resapan.

Perjalanan di Desa Jangkar Kec. Jangkar menjadi lokasi terakhir yang dikunjungi pada Monitoring 8 Lokasi Provinsi Jawa Timur telah usai. Semoga permasalahan dan fasilitas yang sudah diberikan bisa bermanfaat bagi pengguna sesuai dengan solusi-solusi yang telah disampaikan dan didiskusikan bersama. Akhir kata saya mengucapkan terimakasih untuk TFL di lingkungan Pemerintah Kabupaten, KSM serta pihak-pihak yang telah membantu selama berlangsungnya proses monitoring.(encik)