Rehabilitasi Biogas di Kota Yogyakarta

Seperti yang kita ketahui harga bahan bakar minyak yang makin meningkat dan ketersediaannya makin menipis merupakan masalah yang dihadapai oleh masyarakat global.

Pada saat ini masyarakat dihadapkan dengan tingginya harga bahan bakar  gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) yang terus merangkak naik dan semakin sulit dijangkau, hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar gas semakin meningkat dengan pesat, sementara itu sumbernya semakin berkurang sehingga dampak tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat ekonomi bawah. Upaya pencarian bahan bakar yang lebih ramah terhadap lingkungan dan dapat di perbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut.

Salah satu energi alternatif adalah penggunaan biogas yang ramah lingkungan dan terbarukan. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses anaerobic digestion dan memiliki prospek sebagai energi pengganti bahan bakar fosil yang keberadaanya semakin menipis. Sumber energi biogas bisa diperoleh dari limbah rumah tangga, limbah tahu, limbah RPH (Rumah Pemotongan Hewan), kotoran ternak, dan manusia. Energi biogas ini akan menjadi sumber energi alternatif yang baik dalam mengatasi krisis energi karena sifat energi biogas yang dapat diperbarui (renewable). Pada dasarnya biogas memang berasal dari limbah, akan sangat dapat diandalkan sebagai pengganti gas LPG yang semakin hari semakin memberatkan daya beli masyarakat.

Tentu saja biogas memiliki biaya yang jauh lebih murah dari pada penggunaan LPG. Dengan demikian akan berdampak pada penghematan biaya keuangan pada rumah tangga yang dikeluarkan setiap bulanya.

Sebagai bentuk kepedulian dan tindakan nyata terhadap penggunaan energi terbaharukan, AKSANSI melakukan rehabilitasi sarana biogas yang terdapat di 2 KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) di wilayah Kota Yogyakarta. Sarana yang dimiliki oleh 2 KSM tersebut adalah pengolahan limbah rumah tangga atau sering disebut dengan IPAL Komunal program dari pemerintah. Dilokasi ini instalasi pengolahan limbah dilengkapi dengan digester yang berfungsi sebagai tempat terproduksinya gas, gas tersebut dihasilkan dari limbah dapur dan limbah toilet yang telah difermentasi di dalam digester dan disebut sebagai biogas.

Rehabilitasi pertama dilaksanakan di KSM Ngudi Waras yang ada di Gambiran, RT.30/RW.08, Kel. Pandean, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 10 September 2015. Dalam kegiatan ini AKSANSI ditemani oleh pengurus KSM Ngudi Waras, di lokasi ini gas yang telah terproduksi hanya digunakan untuk merebus air pada saat kegiatan pertemuan warga dan bulan ramadhan, selepas itu gas tidak dimanfaatkan. Perbaikan yang dilakukan di KSM Ngudi Waras hanya penggantian manometer, selang kompor, dan kompor. Setelah pemasangan manometer selesai terlihat tekanan gas yang terproduksi sebesar 83cm, dengan tekanan sebesar itu gas dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk 2-3 rumah tangga. Namun hal tersebut belum terlaksana dikarenakan masih perlu dilakukan kordinasi oleh pengurus KSM dengan calon pengguna.

Kegiatan selanjutnya dilaksanakan di KSM Murakapi yang berada di RT.25/RW.08, Kp. Rejowinangun, Kel. Rejowinangun, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta. Sarana pengolahan air limbah dimanfaatkan oleh 33KK dengan iuran setiap bulanya sebesar Rp. 2500,-. KSM Murakapi memiliki pengolahan sarana limbah rumah tangga berupa IPAL Komunal perpipaan yang dilengkapi dengan digester sebagai tempat terproduksinya gas yang dihasilkan dari fermentasi limbah dapur dan limbah toilet. Selama ini instalasi biogas telah terpasang dirumah operator KSM, namun gas tidak digunakan secara maksimal dengan alasan gas tidak mencukupi untuk merebus air. Kegiatan yang dilaksanakan di KSM Murakapi adalah pemindahan instalasi biogas dari rumah operator ke rumah pengurus KSM (Bapak Edwin).

Pada kegiatan ini AKSANSI hanya menyediakan kompor, manometer, dan perangkat pendukung instalasi biogas, untuk pipa saluran swadaya dari calon penerima manfaat. Proses ini dilaksanakan pada Selasa,15 September 2015. Pertama proses pembongkaran instalasi lama dan membuat jalur instalasi yang baru, pada tahap ini dibutuhkan 4 batang pipa dengan diameter ½” karena jarak lokasi tempat kompor sepanjang 16 meter dari pipa utama digester. Untuk instalasi yang baru ini dilengkapi dengan watertrap atau penangkap air, karena kendala utama pada instalasi biogas yang lama adalah banyaknya air yang berada di dalam pipa instalasi sehingga air tersebut menghabat aliran gas menuju pipa distribusi. Ini terbukti setelah instalasi terpasang diperoleh angka tekanan gas yang mencapai pada 63cm, setelah digunakan untuk merebus air menggunakan ceret hanya membutuhkan waktu selama 19 menit, dengan demikian instalasi ini masih bisa disalurkan untuk 1-2 sambungan rumah tangga lagi. Namun pada proses penyambungan selanjutnya prinsip yang diterapkan oleh AKSANSI adalah dengan sistem swadaya untuk pipa sambungan rumah, sedang untuk material kompor, manometer, dan perangkat pendukung serta tenaga instalasi biogas disediakan oleh AKSANSI. Hal ini dimaksudkan agar penerima manfaat sarana instalasi biogas yang terpasang di rumah tangga mau merawat, memelihara, dan mengunakan sarana tersebut secara maksimal.

Akhir kata apa yang AKSANSI lakukan adalah bentuk kepedulian terhadap sarana sanitasi IPAL Komunal yang dilengkapi dengan sistem pengolahan gas yang dikelola oleh KSM, semoga hal ini bisa memberikan contoh dan menjadi motivasi terhadap pengurus KSM dan pengguna yang belum memaksimalkan sarana dan prasarana sanitasi yang dilengkapi digester serta mau memanfaatkan saran tersebut. Dengan memanfaatkan dan memaksimalkan penggunaan gas yang berasal dari digester tersebut dapat membantu meringankan biaya pengeluaran rumah tangga setiap bulannya, sehingga biaya tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lainnya. dani@aksansi.org.